Pasir Pengaraian, BR - Penulis muda asal Muara Rumbai, Rokan Hulu, Riski Alfajri akan merilis buku fiksi berjudul 'kutunggu kamu di Samudra Cinta'. Buku yang akan dirilis tersebut adalah buku ke 35 beliau. Tentu suatu prestasi yang sangat gemilang mengingat bahwa semua karya dan buku yang ia tulis, ditempuh dalam waktu yang sangat singkat, 3 tahun. Artinya dalam setiap tahun Fajri sudah menghasilkan 11 karya. Terlebih lagi beliau baru berumur 21 tahun. Dalam wawancara yang dilakukan redaksi bulletin Rokania, ia mengaku bahwa minatnya menulis muncul saat ‘ditantang’ oleh salah satu dosen STKIP Rokania dalam mata kuliah Menulis Kreatif. “Dosen menantang kami untuk menulis, karya siapa yang bagus, akan dibukukan. Tapi saya punya inisiatif sendiri, jadi saya kirim karya saya ke penerbit dan diterima” kata beliau.

Reski Alfajri adalah mahasiswa STKIP Rokania semester 5. Beliau menuturkan bahwa di samping kuliah, ia juga bekerja untuk membiayayai kuliahnya sendiri. Namun, situasi yang menuntutnya kuliah dan kerja, tidak mematahkan semangatnya dalam menuli. “pada waktu siang hari, saya adalah petani karet dan juga mahasiswa STKIP Rokania, namun malam hari saya adalah penulis. Seringkali ide muncul saat malam, dan juga ketika saya berada di dalam hutan kebun karet”, katanya. 

Sungguh mahasiswa yang hebat, mampu memanajemen waktunya dengan sempurna. Tak heran jika dalam dua setengah tahun, beliau telah menulis dalam bentuk karya sastra, baik puisi ataupun novel karyanya sebanyak 34 buku. 34 buku tersebut antara lain, 3 buku fiksi, 1 buku cermin, 1 novel, antalogi bersama 17 buku, dan 1 antalogi tunggal. Dan 3 buku yang akan diterbitkan adalah, 1 buku antalogi bersama Nur Laili, 1 buku antalogi tunggal untuk  kedua kalinya, dan 1 buku antalogi bersama peserta event Bubar Cerpen. Judul Buku tersebut antara lain, Kumpulan Puisi Kata Terakhir, Senandung Mimpi, 999 Sehimpun Puisi Penyair Riau, Titip Pesan Pada Tuhan, Filantropi, Rasa dalam Karya, Aku Dan 5 Bidadari Surga, Diam Yang Bersuara, Mauveloustica, Dari Ranah Negeriku, Prelude, Separuh Lembaran Hidup, Lipatan Tak Sempurna, Ujung Penantian, Cyclamen, Rinduan Merancuh Rincu, Filantropi Harapan, Sebuah Rasa Sebuah Ungkapan, 70 Sajak Anak Rokan Hulu, Lintas Adat Budaya Bangsa Dalam Puisi, Warna Warni Kehidupan, Melintas Masa, Kepingan Rasa, Juang, Liburan Istimewa, Pedang Halusinasi, Kami Pemuda Masa Kini, Guru Kehidupan, Erupsi Jiwa, Sepenggal Kata Dalam Hijrah, dan, Percik Percik Mubarak. Dan 3 judul buku yang segera diterbitkan ialah, Sajak Yang Merindu, Ku Tunggu Kamu Di Samudra Cinta, dan, Pendar Pendar Rasa.

Selain prestasinya di dunia tulis menulis, beliau juga mempunyai perestasi yang sangat cukup menarik, diantaranya, ia telah memiliki SK penulis mulai 09 Januari 2019 dari Partai Literasi Indonesia. Di samping itu pula, beliau pernah berpartisipasi dalam workshop kepenulisan dan lomba menulis cerpen forum lingkar pena Rokan Hulu, Nubar Nulis Bareng 5 Hari, Event Weekly Puisi, hingga pernah mengikuti, program cipta puisi 100 tema. Kegiatan itu ia ikuti bersama penulis dan penyair terknal nusantra, seperti presiden penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bahri, Fakrunnas M.A Jabbar, Rida K Liamsi dan lain-lain. Ia juga mengikuti event internasional bersama penyair-penyair dari luar Indonesia, seperti Malaysia, Thailand, Brunei dan Singapura. Tidak sampai disitu, bahkan artikelnya sering dimuat di beberapa surat kabar dan juga media online. Beberapa artikelnya pernah dimuat dalam Koran Radar Riau, salah satunya berjudul, Kurma Makanan Favorit Saat Ramadhan. Selian itu beliau juga aktif dalam oraganisasi kepenulisan seperti Lenggok Media Production, Forum Lingkar Pena, dan Pegiat Literasi Rokan Hulu. Karena segudang prestasi yang ia miliki, maka tak heran ia sering mendapat undangan dari sekolah-sekolah atau event-event sastra sebagai juri. Menurut sepeangkuannya, dia sering menjadi juri pada helat-helat sastra. Juri cipta puisi di penerbit Mandiri Jaya Riau, juri cipta fiksi mini di penerbit Mandiri Jaya Riau, juri lomba baca puisi tingkat SLTP di Rambah Hilir, dan pernah menjadi Panitia Lomba Cipta Pusi (PJ) di penerbit Mandiri Jaya Riau.

Reski Alfajri, juga bercerita tentang pahit manisnya menjadi penulis. “Karya saya sering ditolak oleh penerbit, pernah juga saya ditipu oleh penerbit. Tapi, itu tidak mematahkan semangat saya, justru saya lebih tertantang untuk mengasah keterampilan saya” ungkapnya. Meskipun sudah bisa dikatakan penulis muda yang sukses, tapi beliau tetap berpesan bagi penulis pemula agar bisa menghargai karya sendiri terlebih lagi karya orang lain. “Itulah kunci kesuksesan seorang penulis” tutupnya.

Bagikan :